Sunday, December 17, 2017

Saya Belum Mencapai Level Kesenangan Itu

Perlakuan yang Salah terhadap Yesus (2)
Catatan Ibadah ke-1 Minggu 17 Desember 2017

Aku juga tidak memahami enaknya memancing. Selain proses penantian yang panjang dan lama, aku tidak tega melihat ikan hasil pancingan yang megap-megap kehabisan nafas di dalam ember hingga mata mendelik tetapi tak ada yang bisa menolong mereka. Namun, aneh bin ajaib. Jika ikan-ikan tersebut tersaji di meja makan, aku tak ingat lagi semua penderitaan para ikan dan masih bisa menyantapnya dengan lahap. Pengorbanan para ikan tuh luar biasa. Para ikan rela mati untuk kenikmatan mulut kita dan juga untuk memberikan gizi bagi tubuh kita. Mereka tidak bisa hidup menurut kehendak mereka sendiri karena manusia sudah ditentukan untuk berkuasa atas mereka.
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Tuhan juga berkuasa atas manusia sehingga tak ada yang bisa membatalkan kehendak-Nya. Namun, Tuhan bukanlah penguasa yang lalim dan Dia tidak memerintah kita dengan tangan besi. Kita masih bisa mengharapkan belas kasih-Nya sebagai seorang Bapa yang baik karena Tuhan tidak sekejam papanya Juliet hingga mengakibatkan kisah Romeo dan Juliet berakhir menyedihkan. ^_^ Tuhan mengenal seluruh kehidupan kita, termasuk isi hati dan pikiran kita.
Hosea 1:2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
Bagaimana jika Tuhan meminta kita melakukan hal tidak mengenakkan semacam itu? Tentulah merupakan suatu kehormatan jika berhasil memuliakan Tuhan dengan mengasihi orang yang lebih menyukai kegelapan daripada terang lalu membawa orang tersebut kepada Terang. Namun, tidak semua orang telah mencapai level 'kesenangan'nya Hosea dalam mentaati firman Tuhan.
Hosea 1:3 Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki.
Ketaatan Bawa Sukacita
Untuk bisa bertindak dengan taat seperti Hosea, tentu saja dibutuhkan proses yang pastilah tidak singkat karena untuk menggenapi rencana Tuhan yang tidak enak semacam ini, tentulah dibutuhkan keberanian, kerelaan berkorban, dan kemampuan menahan sakit, baik secara fisik maupun mental. Jika tidak benar-benar kuat, justru kita bisa terhisap ke dalam pusaran kegelapan pula.

Jangankan menikahi orang sundal, bekerja sama dengan seorang pemarah saja sudah cukup menyakitkan. Mengasihi seorang pemarah apalagi. Ouw, mana tahan? Pemarah biasanya mudah tersinggung, suka memukul, suka memaki, dan selalu curiga karena pemikirannya negatif. Menakutkan lho berurusan dengan orang semacam ini karena kita harus bisa melawannya dengan cara berbeda. Padahal, aku ini juga manusia biasa yang tidak rela disakiti sehingga masih bisa marah, terutama kalau terus menerus berurusan dengan pemarah. Nah, begitu kita terpancing untuk marah dan membalas pula, berarti hati kita mulai terluka. Maka, aku berdoa seperti Yabes agar terhindar dari malapetaka dan kesakitan, termasuk dijauhkan dari orang pemarah.

Hehehe... untunglah Tuhan itu baik. Dia tidak mencobai kita melebihi batas kemampuan kita. Sekalipun iblis tak peduli dengan batasan kita, iblis tak boleh lho menyentuh tentara Tuhan yang tengah terluka dan sedang beristirahat. Di dalam mimpi kulihat aku berbaring tak berdaya di sebuah kamar lalu tampak seorang pria dengan sorot mata iblis berusaha menyakitiku.

Eh, tiba-tiba terdengar bunyi bel alat penyeranta yang memanggilnya sehingga pria ini tersenyum masam dan segera kembali ke pintu. Aku memperhatikannya dengan kesal ketika dia memegang gagang pintu kamar. Lantas dia memasang senyum terbaik dengan mata liciknya sambil menggerakkan dua jari tangannya sebagai kode bahwa dia akan kembali lagi nanti. Setelah itu dia keluar dari kamar dan menutup pintunya sehingga aku bisa beritirahat.

iiiiiiihhhh... nyebelin dech iblis itu. Jika aku seorang petarung, aku pasti bisa melawannya dari jarak dekat. Namun, sebagai seorang pemanah aku sulit melawannya dari jarak dekat. Kenapa pula dia tak bosan menggangguku? Ouch, aku tak ingin iblis itu kembali tetapi pertempuran dengannya tak akan pernah bisa dihindari. Ini nich salah satu doaku yang sulit terkabul, yaitu agar iblis bertobat atau minimal menyerah.

Namun, di dalam mimpi yang lain aku dihadiahi sebuah buku yang cukup tebal dengan judul ‘Allah itu Baik’. Aku tidak memahami maksudnya hingga beberapa hari kemudian aku dibangunkan oleh suara nyanyian hati yang berjudul Allah itu Baik’. Iya, sekalipun iblis tidak bertobat atau menyerah, kasih setia Allah tak pernah berubah karena Dia tetap memegang kendali hidup kita dulu, sekarang, dan selamanya. Bukan iblis yang pegang kendali.

ALLAH itu BAIK. Allah itu baik, sungguh baik bagiku. Ditunjukkannya kasih setia-Nya. Dia menyediakan yang kuperlukan, menyatakan kebaikan (3X)-Nya bagiku. Kasih setia-Nya tak pernah berubah, dulu s'karang dan s'lamanya. Ajaiblah kuasa dalam nama-Nya. Yesusku luar biasa.

0 komentar:

Post a Comment

* Semua Catatan Ibadah di blog ini tidak diperiksa oleh Pengkhotbah terkait.